Selasa, 01 Juni 2010

InstaLasi Gizi dan Dietetik RSU Tangerang

1. Sejarah Berdirinya Instalasi Gizi
Pada tahun 1984 pengelolaan makanan terpisah tiap kelas. Untuk kelas I dan II dipegang oleh ibu asrama putrid dan pengelolaan makanan untuk kelas II dilakukan di dapur umum. Pada bulan Juli 1984 seluruh kegiatan untuk pengelolaan makanan dipindahkan ke instalasi gizi dan diolah di dapur umum. Pembagian makanan bersifat sentralisasi yaitu petugas membagikan makanan ke tiap ruangan. Kelas I dan II menggunakan piring dan kelas III menggunakan plato.
Tahun 1984 instalasi gizi dipimpinan oleh dr.Maria Lidwina dibantu oleh beberapa staf dan pemasak. Dua tahun kemudian, dr.Maria Lidwina digantikan oleh dr.Juwita Miharja dan dua tahun kemudia digantikan oleh dr.Meli Rosana Sianturi, selanjutnya digantikan oleh dr.Desi Riana. Seluruh kepala instalasi gizi tersebut dipindahkan ke bagian keuangan. PJMT Ibu Maria Mumpuni Triharsi kemudian diangkat menjadi kepala instalasi gizi namun beliau meninggal dunia dan kepala instalasi gizi digantikan oleh dr.Elvi Manurung, Sp.GK hingga saat ini.
Instalasi gizi dan dietetic RSU Tangerang berada langsung dibawah bidang pelayanan penunjang medik. Jumlah tenaga yang ada di Instalasi Gizi adalah 65 orang, dengan latar belakang pendidikan sebagai berikut; 1 orang dokter gizi lulusan S2, 6 orang lulusan S1yang terdiri dari S1 sarjana gizi,S1 administrasi, S1 Tata boga, 2 orang S1 Kesehatan Masyarakat, 1orang S1 manajemen, 1orang lulusan D4 gizi, 3 orang lulusan D3 gizi, 2 orang lulusan D3 tata boga, 1 orang SMKA gizi, 3 orang SMA/sederajat, 22 orang lulusan SMKK Tata boga, 1 orang lulusan Tata Graha, 1 orang lulusan SKKP Boga, 6 orang lulusan SMP, dan 17 orang lulusan SD.


C. Visi, Misi, dan Tujuan Instalasi Gizi
1. Visi Instalasi Gizi
Visi instalasi gizi yaitu pelayanan gizi yaitu bersifat paripurna sesuai standar pelayanan dan memuaskan konsumen serta sebagai tempat pendidikan kesehatan professional.

2. Misi Instalasi Gizi
Misi instalasi gizi dan dietetic adalah memberikan pelayanan gizi dan dietetic yang menjadi penunjang utama dalam penyembuhan penyakit meliputi :
a. Penyelenggaraan makanan dan asuhan gizi yang berkualitas dan memuaskan konsumen pegawai
b. Penyelenggaraan kegiatan pembinaan pegawai secara terus menerus dengan peningkatan profesionalisme dan peningkatan pengetahuan dan teknologi, sehingga dapat menjadi tempat pendidikan kesehatan yang professional dan diunggulkan.
c. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan gizi terapan yang dapat dilaksanakan dan bermanfaat bagi pengembangan pelayanan gizi.



3. Tujuan Instalasi Gizi
Tujuan instalasi gizi adalah membantu pimpinan RSU Tangerang dalam memberikan pelayanan gizi dan dietetik dengan menyelenggarakan makanan, asuhan gizi, penelitian dan gizi terapan dengan cara memberdayakan sumber daya secara efektif dan efisien. Fungsi Instalasi Gizi dalam menyelenggarakan makanan, asuhan gizi, penelitian dan pengembangan serta pembinaan pegawai.

D. Pengorganisasian Pelayanan Gizi
Instalasi gizi dan dietetik RSU Tangerang dipimpin oleh seorang kepala instalasi gizi yang dibantu oleh 2 orang koordinator yaitu koordinator sumber daya dan koordinator pelayanan. Koordinator sumber daya terbagi menjadi bidang sarana dan prasarana, penelitian dan pengembangan, dan kepegawaian. Sedangkan koordinator pelayanan terdiri dari bidang kebersihan lingkungan, perbekalan, unit penyelenggaaraan makanan pasien, asuhan nutrisi dan unit penyelenggaraan makanan karyawan. Unit penyelenggaraan makanan pasien terbagi menjadi unit perencanaan, pengolahan dan distribusi.
Struktur organisasi instalasi gizi dan dietetik di RSU Kabupaten Tangerang dapat dilihat pada bagan 2.2



E. Karakteristik dan Klasifikasi Tenaga Institusi Gizi
Dalam melaksanakan kegiatan Instalasi Gizi didukung oleh 62 orang karyawan dengan latar belakang pendidikan dari SD sampai S2 Gizi Klinik. Daftar kepegawaian dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2.1 Profil Kepegawaian Instalasi Gizi
No Pendidikan Status Jumlah
PNS TKK
1. Dokter + S2 Gizi Kilinik 1 - 1
2. S1 Kesmas 1 - 1
3. S1 Tata boga 1 - 1
4. S1 Gizi 1 - 1
5. S1 Administrasi - 1 1
6. D4 Gizi 1 - 1
7. D3 Gizi 3 - 3
8. D3 Tata Boga 2 1 3
9. SMKA Gizi 1 - 1
10. SMK Graha 1 - 1
11. SMKK Boga 1 - 1
12. SMK Tata Boga 3 19 22
13. SMA 2 1 3
14. SMP 5 1 6
15 SD 5 13 18
Total 65



F. Analisa Ketenagaan di Instalasi Gizi RSU Tangerang
Kebutuhan akan tenaga ahli ini belum ada standar yang pasti, tetapi sudah disepakati bahwa untuk setiap institusi yang menyediakan makanan 300 porsi diperlukan seorang Sarjana Muda Gizi dan 2 Pengatur Gizi. Tenaga yang tidak ahli adalah juru masak, pembersih, tenaga administrasi dan tenaga khusus bila diperlukan. Kebutuhan tenaga yang tidak ahli ini bervariasi menurut besar kecilnya pelayanan gizi makanan kelompok tersebut. Sedangkan untuk Rumah Sakit kebutuhan tenaga ini lebih banyak lagi dan disesuaikan dengan macam pelayanan kesehatan yang dimiliki Rumah Sakit tersebut atau sesuai dengan macam / kelas Rumah Sakit. Sebagai patokan bahwa untuk setiap 75-100 tempat tidur diperlukan 1 tenaga gizi dan 5-6 tempat tidur dibutuhkan 1 tenaga pemasak, 60-70 tempat tidur untuk 1 pekarya / pembersih.
Instalasi Gizi dan Dietetik RSU Tangerang berada langsung dibawah bidang Pelayanan Penunjang Medik. Jumlah tenaga yang ada di Instalasi Gizi adalah 65 orang, dengan latar belakang sebagai berikut :
1. Satu orang dokter gizi lulusan S2, yang menjabat sebagai kepala Instalasi Gizi dan dietetik bertanggung jawab memimpin penyelenggaraan gizi Rumah Sakit yang pada umumnya bertanggung jawab kepada Wadir Pelayanan Penunjan Medis.
2. Tiga orang lulusan S1, yang terdiri dari S1 administrasi, S1 Tata Boga dan S1 Kesehatan Masyarakat. Adapun lulusan S1 Tata Boga sebagai Koordinator Sumber Daya yang mempunyai tugas membantu kepala Instalasi Gizi dan dietetik dalam Bidang Sumber Daya, sekaligus membawahi Bidang Sarana dan Prasarana, Litbang, dan Kepegawaian.
3. 1 orang lulusan D4 Gizi, sebagai Koordinator pelayanan
4. 1 orang lulusan D3 Gizi, membantu koordinator sumber daya dalam membantu tugas-tugasnya
5. 2 orang lulusan D3 tata boga, 10 orang SMKA gizi, 3 orang SMA/sederajat, 21 orang lulusan SMKK tataboga.
Analisis ketenagaan di instalasi gizi dan dietetik RSU Tangerang
Kebutuhan tenaga ahli di institusi yang menyediakan makanan sekitar 300 porsi diperlukan seorang sarjana muda gizi dan 2 orang pengatur gizi. Tenaga yang tidak ahli adalah juru masak, pembersih, tenaga administrasi dan tenaga khusus bila diperlukan. Kebutuhan tenaga yang tidak ahli ini bervariasi menurut besar kecilnya pelayanan gizi makanan kelompok tersebut. Sedangkan untuk rumah sakit, kebutuhan tenaga ini lebih banyak lagi dan disesuaikan dengan macampelayanan kesehatan yang dimiliki rumah sakit tersebut atau sesuai dengan macam / kelas rumah sakit. Sebagai patokan bahwa untuk setiap 75-100 tempat tidur diperlukan 1 tenaga ahli gizi dan 5-6 tempat tidur dibutuhkan.

1. Berdasarkan Indicator Staffing Needs (ISN)
Kebutuhan tenaga = beban kerja dalam 1 tahun
Waktu kerja yang tersedia / tahun

Kapasitas = jumlah beban kerja / tahun
= jumlah karyawan saat ini x jam keja x 365 hari
Waktu kerja yang tersedia
a. 365 hari – 90 hari (hari non efektif kerja)
b. 90 hari non efektif
12 hari cuti, 14 hari libur nasional
12 hari izin sakit, 52 hari minggu / tahun
c. 275 hari x 7 jam kerja efektif = 1925 jam
Jadi kebutuhan ahli gizi berdasarkan ISN adalah
Kebutuhan ahli gizi = 5 orang x 7 jam x 365 hari
1925 jam
= 7 orang

Pada saat ini jumlah ahli gizi di RSU Tangerang berjumlah 5 orang, tetapi perhitungan kebutuhan jumlah tenaga ahli gizi berdasarkan ISN adalah 7 orang. Diperlukan tambahan kurang lebih 2 orang lagi tenaga gizi agar pekerjaan lebih terfokus karena bertanggung jawab dengan satu pekerjaan. Misalnya 1 ahli gizi hanya bertanggung jawab menjadi koordinator atau menjadi penaggung jawab saranan dan prasarana.

Kebutuhan pemasak = 19 orang x 7 jam x 365 hari
1925 jam
= 25 orang
Kebutuhan pekarya = 6 orang x 7 jam x 365 hari
1925 jam
= 8 orang
Dengan adanya penambahan kebutuhan pemasak dan pekarya, dalam hal ini adalah petugas pendistribusian makanan ke ruangan pasien, pekerjaan akan lebih efektif dan efisien, masakan dapat terjaga kualitasnya. Ada satu aspek penting yang menentukan mutu kerja dari seorang karyawan, yaitu faktor kelelahan. Tenaga kerja yang lelah tidak akan dapat bekerja secara efisien dan kualitas kerja yang dihasilkan tidak baik.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pembobotan dalam perhitungan kebutuhan tenaga pada penyelenggaraan makanan institusi :
a. Jumlah dan jenis porsi yang dilayani
b. Jumlah dan macam menu yang diselenggarakan
c. Jumlah hari pelayanan makanan
d. Jumlah dan macam peralatan yang tersedia
e. Sarana fisik dan prasarana yang tersedia
f. Jumlah, jenis, dan kualitas bahan makanan yang digunakan
g. Sistem produksi makanan yang digunakan
h. Sistem distribusi/ pelayanan makanannya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar